Setelah santap malam, si Sulung bertanya kepada saya, “Ayah malam ini nemani tidur siapa?” ucapnya. Memang setiap malam saya selalu menemani Sulung dan Adiknya secara bergantian. “Menemani siapa ya?” lirikku sesaat sambil tetap fokus mencuci tangan. Sulung terlihat menunggu kepastian jawaban sambil menyeringai kesakitan. Gigi grahamnya yang berlubang sudah ditangani dokter tadi sore. Tapi sepertinya belum hilang denyut sakitnya. Sedikit berkurang.
“Menurut Abang Ayah nemani siapa?” pertanyaanku memecah keheningan. “Nggak tau” jawabnya. “Tadi malam Ayah datang Abang sudah tidur, nemeni abang sebentar. Berarti malam ini Ayah nemeni siapa?” Godaku sambil tersenyum. “Nemeni adek, ya udah Abang tidur” sambil melangkah lunglai. Andai saja dia meminta di temani dengan kondisi giginya pasti adeknya mengizinkan. Andai saja dia meminta pasti juga dikabulkan. Tatapku mengantarkan kepergiannya penuh dengan kebanggan. Have a nice sleep Bang! Teriakku dalam hati.
Si Sulung beranjak dewasa. Cara berpikirnya mulai matang meskipun masih jauh dari usia remaja. Logikanya juga sudah mulai terasah. Mengingatkan kembali dulu ketika kuliah dalam materi Filsafat. Bahwa logika itu dasarnya kebenaran. Kalau premisnya salah, maka kesimpulannya bisa saja valid tetapi tidak benar. Apalagi dibangun dari premis yang tidak sesuai fakta, tetap valid tapi pasti tidak benar. Memang perlu sedikit ekstra berpikir dalam hal logika. Bahkan saat santri pun ingat contoh-contoh pelajarannya, tapi belum tau apa manfaatnya. Ya, namanya ilmu Mantiq.
Atau sederhanya dalam kehidupan nyata kadang orang berkata, kenapa harus shalat kalau nasib tidak pernah berubah? Ini jenis non-sequitiur (cacat logika), kesimpulannya yang jauh dari premis. Karena shalat dan nasib itu dua hal yang berbeda. Umumnya kata sesat tersebut muncul karena generalisasi yang berlebihan. Over!. Kalau ada yang shalat kemudian nasibnya berubah, belum tentu karena shalatnya. Bisa juga false cause sebab akibat palsu, karena shalat bisa saja merubah nasib, tapi nasib tidak bisa berubah hanya dengan shalat. Ingat!. Shalat adalah doa dengan kata, waktu dan tempat yang terbaik. Namun bisa juga karena gratifikasi instan yang bias, karena sukanya yang instan-instan jadi hobinya makan mie. Nggk sehat!. Ngomongin apa sih ini? Hahahaha. Nglantur. Materinya berat. Atau efek makan durian tadi ya?
Kayaknya perlu baca-baca lagi tentang filsafat ini. Biar bisa ngajari anak-anak berpikir yang benar dan baik. Harus sepaket. Benar dan baik. Karena hanya dengan kebenaran sesuatu bisa diperbaiki. Jom terus belajar!!!
Tapis, 30 Des 2024
PAS | Pemulung Amal Saleh





