Manusia adalah masterpiece (mahakarya) yang diciptakan Allah. Semuanya dalam standar kebaikan dan prototipe yang sama. Berjalannya waktu, keluarga, lingkungan dan pendidikan menjadikan sang mahakarya yang baru terlahir kembali dengan pola pikiranya, tingkahlakunya, kebiasannya, karakteristiknya, dan kehidupannya.

Maka banyak ahli psikologi yang mendalami kejiwaan menyebutkan bahwa tindakan dan perilaku seseorang menentukan masa depannya, disebut dengan bakat. Ternyata semua orang bermesin bakat penentu masa depan. Sebagaimana Islam juga menekankan secara personal tentang bakat istimewa yang diingat semua orang. Bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, (HR. Ahmad). Manfaat itu bakat.

Banyak hasil penelitian menyebutkan ragam bakat yang nyata mengantarkan pada kesuksesan. Mulai growth mindset, disiplin dan tekun, berpikir kritis, komunikasi dan inisiasi, kreatif dan inovatif, kepemimpinan, cerdas emosional, pembelajar, dan banyak lagi. Namun inti dari semua sari dari bakat-bakat tersebut terletak pada dua prinsip, fokus pada peningkatan diri, dan mengambil 100% tanggungjawab untuk semua proses dan tahapnya.

Bagi kita yang hidup cukup dengan copas (copy paste) dari pendahulu, pasti banyak kemudahan dan percepatan. Apalagi copas bersanad, jelas rumusnya. Memulainya juga cukup dengan membuka pintu kesadaran (awareness). Sedangkan kata kuncinya dari sebuah ungkapan sederhana, “Apa yang anda lakukan saat tidak ada seorang pun yang melihatmu?” itulah bakat aslimu. Masih yakin bakatmu sudah sesuai dengan impianmu?

Paser, 03 Nov 2024
PAS | Pemulung Amal Soleh

Share the Post: