Melewati museum Habibi dan Ainun di Parepare, mengingatkan penggalan-penggalan kisah sang Maestro kecil dengan mimpi besar BJ Habibi. Cita-citanya membawa teknologi Indonesia melesat ke angkasa. Namun, mimpi itu penuh cobaan dan rintangan. Ayahnya wafat ketika Habibie masih remaja, meninggalkan keluarga dalam berat dan sulitnya kehidupan. Meski begitu, sang ibu, R.A. Tuti Marini Puspowardojo, menyadari bahwa ilmu pengetahuan adalah kunci masa depan. Apa pun ia kerjakan.
Berbekal kecintaan pada ilmu dan tekad baja, membawanya terbang ke Jerman. Di negeri itu, ia tidak hanya berjuang melawan dinginnya musim salju, tetapi juga menjaga tetap fokus pada pendidikan dan hidup sederhana. Hemat makan demi membeli buku yang ia harus pelajari. Rumus “man jadda wajada” itu nyata, menjadikanya insinyur pesawat terbang yang diakui dunia.
Di balik kesuksesannya, ada Ainun, sang istri yang selalu menjadi cahaya dalam rumah tangga. Ia bukan sekadar pendamping, tetapi sahabat yang selalu mendukung visi suami. Saat Habibie ingin pulang ke Indonesia untuk membangun industri dirgantara waktu itu (ref. Film), Ainun berkata, “Kalau itu untuk Indonesia, kita harus siap berkorban.”
Pasangan sandal yang yang terlihat berbeda dan tak sama ini saling melengkapi. Keduanya jalan seiring untuk mewujudkan mimpi besar untuk bangsa yang kita cintai. Habibie menjadi presiden yang mengedepankan ilmu dan teknologi, sementara Ainun mendukungnya dengan program-program sosial dan pendidikan. Mereka menunjukkan bahwa keberhasilan sejati bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi juga tentang kontribusi kepada bangsa dan generasi negeri ini.
Dari kisah keduanya, kita belajar bahwa pendidikan, kerja keras, dan dukungan keluarga adalah fondasi utama untuk membangun mimpi menjadi nyata. Mereka adalah bukti, dari sebuah keterbatasan, melalui komitmen, proses dan konsistensi, tentu mudah bagi Allah untuk mengabulkannya.
Pare-pare, 30 Nov 2024
PAS | Pemulung Amal Saleh





